BATU, BrawijayaPost.com,– Kampung Tempe Beji di Kecamatan Junrejo, Kota Batu, bukan sekadar kawasan produksi makanan berbahan kedelai. Di balik aktivitas ratusan perajin, terdapat perputaran ekonomi sekaligus potensi wisata edukasi yang terus dikembangkan masyarakat.
Data yang ada mencatat sekitar 263 perajin tempe beraktivitas di Desa Beji. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, kawasan tersebut membutuhkan sekitar 6–7 ton kedelai setiap hari.
Besarnya aktivitas produksi itu membuat tempe menjadi salah satu bagian penting dari roda perekonomian masyarakat Desa Beji, khususnya di Dusun Karangjambe.
Kepala Desa Beji, Deny Cahyono, mengatakan potensi tersebut harus dipandang lebih luas. Menurutnya, Kampung Tempe bukan hanya tempat masyarakat menjalankan usaha, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan potensi wisata yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat dari luar daerah.
“Kampung Tempe ini memiliki kekuatan yang luar biasa karena di dalamnya ada masyarakat yang sudah bertahun-tahun menekuni usaha tempe. Ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana potensi tersebut bisa menjadi bagian dari edukasi dan pengembangan ekonomi desa,” ujar Deny Cahyono.
Aktivitas produksi tempe di Beji telah berlangsung secara turun-temurun. Produk yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan di sekitar desa, tetapi juga menjangkau sejumlah wilayah di Malang Raya dan daerah sekitarnya.
Rantai ekonominya pun cukup panjang. Mulai dari penyediaan kedelai, proses produksi, tenaga kerja, distribusi hingga pemasaran produk kepada konsumen.
Deny menilai keberadaan ratusan perajin merupakan kekuatan ekonomi yang harus terus dijaga.
“Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana perajin tetap bisa berkembang. Mereka adalah bagian dari kekuatan ekonomi masyarakat. Karena itu, potensi yang sudah ada harus kita rawat dan dikembangkan bersama,” katanya.
Selain mempertahankan produksi tempe, pengembangan produk turunan juga dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah.
Tempe dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan sehingga memberikan pilihan pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM.
Omah Tempe Jadi Magnet Eduwisata
Potensi Kampung Tempe Beji kemudian dikembangkan melalui keberadaan Omah Tempe di Dusun Karangjambe.
Konsepnya bukan sekadar tempat melihat produk tempe, tetapi memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengetahui proses pembuatannya secara langsung.
Pengunjung dapat melihat tahapan mulai dari pengolahan kedelai, pemberian ragi, pencetakan hingga proses fermentasi.
Konsep tersebut membuat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus menjadi pengalaman edukasi bagi wisatawan, pelajar maupun komunitas.
Deny mengatakan, pengembangan wisata edukasi menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kami ingin masyarakat yang datang tidak hanya melihat tempe sebagai makanan. Mereka bisa mengetahui bagaimana prosesnya, bagaimana perjuangan perajin dan bagaimana sebuah produk sederhana ternyata mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
TEMU Perkuat Wisata Edukasi
Pada 2026, Kampung Tempe Beji kembali diperkenalkan sebagai destinasi wisata edukasi melalui program TEMU atau Tempe Edukasi Maju dan Unggul.
Program tersebut memberikan pengalaman kepada peserta untuk mengikuti proses pembuatan tempe dari awal hingga akhir. Peserta juga dapat membawa pulang hasil produksi yang dibuat dalam kegiatan edukasi.
Menurut Deny, program semacam ini memiliki nilai penting karena dapat mengenalkan potensi ekonomi lokal kepada generasi muda.
“Kami berharap generasi muda mengenal potensi yang ada di desanya sendiri. Tempe ini merupakan produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi di baliknya ada proses, keterampilan dan ekonomi masyarakat yang harus dihargai,” jelasnya.
Tantangan Harga Kedelai dan Pasar
Di balik besarnya potensi tersebut, industri tempe Beji juga menghadapi tantangan.
Perubahan harga bahan baku dan kondisi permintaan pasar turut memengaruhi produksi sebagian perajin. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perajin bahkan mengalami penurunan volume produksi.
Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan upaya untuk mempertahankan Kampung Tempe sebagai sentra ekonomi masyarakat.
Deny menegaskan, pengembangan wisata edukasi harus tetap berjalan beriringan dengan kepentingan para perajin.
“Jangan sampai pengembangan wisata justru membuat perajin kehilangan ruang. Prinsipnya, ekonomi masyarakat dan wisata edukasi harus bisa berjalan bersama. Kalau keduanya berkembang, tentu manfaatnya akan kembali kepada warga,” tegasnya.
Menjaga Identitas Desa Beji
Dengan sekitar 263 perajin dan kebutuhan kedelai mencapai 6–7 ton per hari, Kampung Tempe menjadi salah satu potensi ekonomi yang melekat dengan identitas Desa Beji.
Keberadaan Omah Tempe kemudian memberikan wajah baru bagi kawasan tersebut dengan menggabungkan aktivitas produksi, edukasi dan pengenalan potensi lokal.
Bagi Pemerintah Desa Beji, kekuatan Kampung Tempe terletak pada masyarakatnya.
Deny berharap keberadaan para perajin dapat terus dipertahankan sekaligus dikembangkan melalui inovasi, pengolahan produk turunan dan wisata edukasi.
“Harapan kami sederhana, Kampung Tempe tetap hidup, perajinnya semakin berkembang dan anak-anak muda melihat bahwa potensi desa juga bisa menjadi masa depan. Ini yang ingin kami jaga bersama,” pungkas Deny Cahyono. (Eko)










Leave a Comment