BUMDes Trijaya Wadeng Gresik Tancap Gas: Kelola 600 Ayam Petelur Hingga Pasar Desa Jadi Mesin Ekonomi Baru

Redaktur Yono

June 24, 2026

3
Min Read

Bagikan Ke

Shares

Gresik, Brawijayapost.com,- Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Trijaya Desa Wadeng, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, kini menjadi sorotan setelah menunjukkan eksistensi nyata dalam menggerakkan ekonomi lokal. Lewat langkah berani, BUMDes ini berhasil melakukan ekspansi usaha, mulai dari peternakan ayam petelur hingga pengelolaan aset vital desa.

Kepala Desa Wadeng, Imam Khoiri, bersama Direktur BUMDes Trijaya, Edi Setiantoro, sukses mentransformasi BUMDes dari sekadar formalitas menjadi mesin ekonomi yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Per 24 Juni 2026, BUMDes Trijaya telah mengoperasikan enam unit usaha yang terintegrasi.
Peternakan Ayam Petelur: Penuhi Kebutuhan Pangan Lokal
Langkah strategis dimulai dari sektor peternakan dengan mengelola 600 ekor ayam petelur. Produksi telur segar ini dikelola dengan alur distribusi pendek untuk memastikan harga lebih stabil dan kualitas terjamin bagi warga desa.
“Konsepnya sederhana: warga Wadeng makan telur produksi warga Wadeng juga. Keuntungannya berputar kembali ke desa,” ujar Direktur BUMDes Trijaya, Edi Setiantoro, saat meninjau kandang ayam, Selasa (24/6/2026).
Edi menambahkan, ke depan, pihaknya menargetkan jangkauan distribusi telur Trijaya hingga ke luar desa, guna meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.
Kelola Aset Desa Jadi Pusat Ekonomi
Selain peternakan, Pemdes Wadeng memberikan kepercayaan penuh kepada BUMDes untuk mengelola empat sektor vital lainnya:

  • Pasar Desa: Penataan lapak yang lebih profesional dan sistem retribusi transparan demi kenyamanan pedagang.
  • Kedai & Pujasera: Menjadi hub kuliner UMKM bagi warga, termasuk fasilitasi bagi ibu-ibu PKK.
  • Layanan PPUB: Mempermudah administrasi air bersih warga tanpa harus ke kantor kecamatan.
  • Pengelolaan Sampah: Armada jemput bola yang tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi melalui bank sampah.
    Transparansi sebagai Kunci Utama
    Kades Wadeng, Imam Khoiri, menegaskan bahwa kesuksesan ekspansi ini berpijak pada tata kelola yang bersih. Setiap unit usaha diwajibkan memberikan laporan keuangan kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setiap tiga bulan.
    “Warga berhak tahu modal dari mana, untung berapa, dan digunakan untuk apa. Kami memasang papan informasi keuangan di balai desa. Kalau transparan, kepercayaan warga naik, dan BUMDes otomatis menjadi kuat,” jelas Imam.
    Seluruh keuntungan yang dihasilkan pun dikelola secara akuntabel: sebagian untuk operasional, sebagian sebagai modal pengembangan unit usaha, dan sisanya disetorkan ke kas desa sebagai PADes.
    Target Masa Depan: Jadi Tulang Punggung Ekonomi
    Dengan enam unit usaha yang kini berjalan, BUMDes Trijaya menargetkan diri menjadi tulang punggung ekonomi Desa Wadeng dalam tiga tahun ke depan. Fokus utama mereka adalah pemberdayaan SDM lokal, mulai dari peternak, pelaku UMKM, hingga petugas kebersihan yang semuanya merupakan warga setempat.
    “Kami tidak mau BUMDes cuma jadi plang nama. Harus ada efek nyata ke dapur warga. Jika 600 ayam ini berhasil, tahun depan kita tambah lagi. Jika pasar makin ramai, pedagang Wadeng yang sejahtera,” pungkas Edi.
  • Kisah BUMDes Trijaya menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah desa, pengurus BUMDes, dan partisipasi warga adalah kunci sukses kemandirian desa. Dengan modal keberanian dan fondasi transparansi, kesejahteraan masyarakat bukan lagi sekadar wacana. (Eko)
Baca Lainnya:  Sinergitas Tanpa Batas, Tiga Pilar Menganti Turut Rayakan HUT TNI Ke-80 Di Makoramil 0817/04 Menganti

Leave a Comment

Related Post