Gresik, Brawijayapost.com,– Gelombang keberatan dari wali murid terkait rencana study tour SMP Negeri 27 Gresik ke Bali semakin santer terdengar. Biaya sebesar Rp1.500.000 per siswa dianggap terlalu tinggi dan membebani ekonomi keluarga, terutama karena angka tersebut belum termasuk kebutuhan uang saku pribadi siswa.
Kegiatan yang rencananya digelar pasca-libur Hari Raya Idul Fitri ini memang diklaim tidak wajib. Namun, para orang tua merasa ada beban moral dan sosial yang menghantui anak-anak mereka jika tidak ikut serta.
Kekhawatiran utama wali murid bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan dampak psikologis bagi siswa yang absen.
“Walaupun tidak wajib, anak bisa merasa minder kalau teman-temannya berangkat semua. Itu yang kami khawatirkan,” ungkap salah satu wali murid kepada media, Sabtu (14/02/2026).
Menanggapi fenomena ini, pakar psikologi pendidikan menjelaskan bahwa siswa SMP berada pada fase pencarian identitas yang sangat dipengaruhi oleh penerimaan kelompok. Fenomena peer pressure atau tekanan teman sebaya membuat anak merasa terisolasi jika tidak mengikuti aktivitas mayoritas.
Selain aspek psikologis, transparansi anggaran dan urgensi perjalanan jauh ini juga dipertanyakan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 75 Tahun 2016, ditegaskan bahwa:
- Pungutan di sekolah negeri dilarang bersifat memaksa.
- Sumbangan atau biaya kegiatan harus bersifat sukarela.
- Tidak boleh ada ikatan administratif bagi yang tidak mampu atau tidak bersedia.
Wali murid mendesak pihak sekolah untuk memberikan jaminan bahwa siswa yang tidak ikut tidak akan mendapat diskriminasi, baik dalam bentuk nilai akademik maupun perlakuan sosial di sekolah.
Pihak Sekolah Belum Beri Tanggapan.
Hingga berita ini diterbitkan. Pihak SMPN 27 Gresik belum memberikan keterangan resmi atau klarifikasi terkait keluhan wali murid tersebut. Masyarakat kini menunggu langkah mediasi agar kegiatan sekolah tidak justru menjadi beban bagi wali murid yang kurang mampu. (Dwa/*)










Leave a Comment